Langsung ke konten utama

Menghina (Guru) mu.

Renungan hari ini.

Hari ini kita terlampau sering menemukan orang-orang yang sibuk memaki. Lebih dahsyat, yang dimaki ini guru bagi banyak orang, walau baginya, ya, dia bahkan tak tahu siapa yang sedang dimaki.

Seringkali kita mengingatkan diri, bahwa ada banyak pesan dan amalan yang kita dapatkan dari guru. Bahkan guru pula yang menjadi salah satu tauladan bagi kita. Kita contoh. Lantas kemudian kita akan sedih dan sakit bila guru kita dimaki dengan mudahnya.

Lebih dalam lagi, saya berpikir. Mereka yang memaki ini bukan berarti tidak tahu betapa pentingnya meneladani seorang guru. Bukan berarti ia tak punya guru. Ia tentu punya guru, hanya tak sama dengan kita.

Guru kita bukanlah guru baginya. Barangkali itu yang kemudian membuat ia sangat enteng berkata kasar hingga meremehkan.

Maka, di balik rasa sedih dan sakit kala melihat guru kita dimaki dan dihina, semoga kita tak lupa bersyukur. Bersyukur karena guru kita tak pernah memberi dan menjadi contoh bagaimana memaki dan menghina, sehingga kita (harusnya) tak punya alasan tuk melakukan hal serupa.

Satu lagi, kita juga patut bersyukur sebab di antara banyak tindakan yang barangkali dapat dengan mudah kita lakukan karena yakin benar, kita tak hendak berpikir bahwa menghina dan memaki adalah bagian dari adab yang benar. Sama sekali bukan.

Lebih luas lagi, sebagai saudara satu tempat tinggal (bumi), memelihara komunikasi adalah bagian dari tanggungjawab demi bumi yang terjaga. Agar yang tak rusak bukan hanya alam, tetapi juga nurani manusianya.

Doa baik tuk seluruh guru, baik guruku, gurumu, guru kita, guru kalian semua.

عن انس بن مالك قال رسول الله : لا يؤمن احدكم حتى يحب لاخيه ما يحب لنفسه. رواه البخاري و مسلم.

Artinya:
Dari Anas Bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu, Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak sempurna Iman seseorang sehingga ia mencintai saudaanya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (HR. Bukhari Muslim)

Penjelasan hadits di atas:

Orang yang mengaku mukmin itu tak mudah tersinggung/marah dengan mukmin lainnya. Bila belum dapat menerapkan rukun dengan menerapkan pada diri sendiri, bila (saudara mukmin) merasa senang ia akan merasa senang pula. begitu pula sebaliknya. Misalnya begini: kamu senang dihormati saudara (mukmin) mu, bila saudara (mukmin) mu dihormati orang lain kamu harus ikut senang. Atau kamu sendiri juga harus mau menghormati saudara (mukmin) mu. Bila kamu dihina oleh orang lain, pasti kamu tak suka. Begitu pula bila saudaramu dihina, dan kamu juga tak perlu ikut menghina.

Sumber: kitab Al-azwaadu al-mushthofawiyyah halaman 25, terjemahan kitab al-arba'iina al-nawawiyyah, disusun oleh KH. Bisri Musthofa, Rembang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I'm Back!

Shock berat pas ngecek tanggal tulisan terakhir di blog. 19 Juli 2018. Udah hampir 2 tahun. Gimana saya bisa selama ini ninggalin blog? Salah satunya ya karena..., lupa bayar domain dan nggak tahu cara balikinnya. LOL~ Baiklah, ini konyol tapi ya sudah. Begitulah kenyataannya. 😴 Apa kabar kalian? Semoga baik, ya. Tetep betah di rumah karena sekarang masih bahaya corona. Ya ya, pasti kalian bosen denger nama penyakit itu. But , kita memang harus lawan. Lantas, bagaimana kabar saya? Hmmm, saya baik dan sudah setahun lebih menikah. Hehehe~ Yup, 10 Februari 2019 saya menikah dengan lelaki yang saya cintai, Ahmad Zaini Aziz. Apakah pernikahan selalu menyenangkan seperti yang saya bayangkan? Sejujurnya, saya sih nggak pernah membayangkan bahwa menikah itu akan selalu menyenangkan. Saya sangat paham bahwa menikah itu soal ibadah dan belajar yang akan bikin kita bahagia. Bukan sekadar senang. Bahagia itu, ya, ternyata bukan hanya soal kumpulan hal menyenangkan. Ketika...

Lega

Sebelum menikah bahkan tahu akan menikah dengan siapa, aku selalu berusaha memastikan bahwa setiap langkahku adalah untuk menyiapkan diri berdampingan dengan orang lain. Menjadi istri, menjadi ibu, menjadi bagian dari keluarga orang lain, bahkan menjadi perempuan yang ingin melepaskan pekerjaan untuk fokus kepada keluarga. Apakah semuanya tuntutan dan terpaksa? Tidak. Semua kulakukan karena aku mau. Tidak ada masalah, semua berjalan baik. Makin hari aku merasa makin siap. Setelah menikah dengan lelaki yang kupilih, dan kuyakin bahwa ia punya frekuensi yang sama di tengah banyaknya perbedaan, ternyata tidak semua bisa sesuai dengan persiapan tersebut. Dari banyak hal baru yang kulalui setelah menikah, aku tidak pernah menyangka bahwa yang paling berat tuk dijalani adalah menjadi bagian keluarga dari orang lain. Bukan soal hilangnya profesiku, bulan karena peranku jadi istri yang sepenuhnya di rumah. Ini cukup membuatku sesak, karena sebelumnya aku sangat percaya diri. Dari latar belakan...

We Have "Luar Binasa" Behind The "Luar Biasa"

K ita mungkin tidak asing dengan istilah ‘luar biasa’. Luar biasa adalah ungkapan ketika kita takjub melihat sesuatu, baik ciptaan Allah, maupun ciptaan manusia. Kata ‘luar biasa’ sering diplesetkan dengan ‘luar binasa’. Nah, mari kita belajar dari ‘luar binasa’. Tanpa kita sadari, istilah ‘luar binasa’ bisa kita jadikan sebagai suatu hal yang dapat membuat kita lebih semangat dalam menjalani segala macam tantangan hidup. Mengapa demikian? Kata binasa sendiri mempunyai arti hilang, mati atau gugur. Mungkin memang tidak ada kedekatan arti antara ‘biasa’ dan ‘binasa’ meskipun mereka mempunyai struktur kata yang mirip jika diucapkan. Orang mengucapkan kata ‘luar biasa’ saat takjub mungkin karena hal yang menakjubkan tersebut memang keluar dari hal yang biasa dilihat. Misalkan ketika melihat seorang perempuan yang cantik, para pria tidak jarang berkata, “cantiknya luar biasa”. Kita tentu masih begitu ingat dengan kehebatan para pelajar SMK yang berhasil membuat sebua...