Langsung ke konten utama

I'm Back!

Shock berat pas ngecek tanggal tulisan terakhir di blog. 19 Juli 2018. Udah hampir 2 tahun. Gimana saya bisa selama ini ninggalin blog? Salah satunya ya karena..., lupa bayar domain dan nggak tahu cara balikinnya. LOL~

Baiklah, ini konyol tapi ya sudah. Begitulah kenyataannya. 😴


Apa kabar kalian? Semoga baik, ya. Tetep betah di rumah karena sekarang masih bahaya corona. Ya ya, pasti kalian bosen denger nama penyakit itu. But, kita memang harus lawan.


Lantas, bagaimana kabar saya? Hmmm, saya baik dan sudah setahun lebih menikah. Hehehe~


Yup, 10 Februari 2019 saya menikah dengan lelaki yang saya cintai, Ahmad Zaini Aziz.

Apakah pernikahan selalu menyenangkan seperti yang saya bayangkan? Sejujurnya, saya sih nggak pernah membayangkan bahwa menikah itu akan selalu menyenangkan. Saya sangat paham bahwa menikah itu soal ibadah dan belajar yang akan bikin kita bahagia. Bukan sekadar senang.

Bahagia itu, ya, ternyata bukan hanya soal kumpulan hal menyenangkan. Ketika saya melewati masa pahit bareng dia, saya pun bahagia karena kami jadi belajar bersama. Tumbuh juga bersama.


Setahun menikah, saya sudah dua kali keguguran. Apakah itu kegagalan? Bagi saya, bukan. Itu suratan. Barangkali selalu jadi hal klasik kalau kita ingat perkara usaha yang cuma bisa di langitkan, tapi doalah yang ada di langit. Pada nyatanya, ya begitulah. We did our best, tapi ternyata jalan kami dituntun begini. Nggak apa-apa.


Dalam perjalanan hampir dua tahun ngilang dari blog, mulai dari sebelum berencana nikah sampai sekarang, saya belajar banyak hal. Terutama soal hal pahit dan harapan.


Suami saya selalu ngingetin bahwa berharap itu harus, tapi ngatur Allah tuh nggak boleh. Bukan kita yang harus menolak suratan, tapi kita yang harus belajar menerima bahwa harapan itu ya nggak bisa diukur segera atau tidaknya dikabulkan.


So here we are, kami memilih untuk terus belajar sabar dan ikhlas. Kami memilih mencipta bahagia tanpa lihat standar orang.


Kamu yang baca ini, semoga senantiasa bahagia dan baik, ya.


Saya berharap bisa sering nulis di blog lagi. Harus!


Sampai ketemu di tulisan selanjutnya.


Salam lesung pipit kanan,
Rizka Amalia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

We Have "Luar Binasa" Behind The "Luar Biasa"

K ita mungkin tidak asing dengan istilah ‘luar biasa’. Luar biasa adalah ungkapan ketika kita takjub melihat sesuatu, baik ciptaan Allah, maupun ciptaan manusia. Kata ‘luar biasa’ sering diplesetkan dengan ‘luar binasa’. Nah, mari kita belajar dari ‘luar binasa’. Tanpa kita sadari, istilah ‘luar binasa’ bisa kita jadikan sebagai suatu hal yang dapat membuat kita lebih semangat dalam menjalani segala macam tantangan hidup. Mengapa demikian? Kata binasa sendiri mempunyai arti hilang, mati atau gugur. Mungkin memang tidak ada kedekatan arti antara ‘biasa’ dan ‘binasa’ meskipun mereka mempunyai struktur kata yang mirip jika diucapkan. Orang mengucapkan kata ‘luar biasa’ saat takjub mungkin karena hal yang menakjubkan tersebut memang keluar dari hal yang biasa dilihat. Misalkan ketika melihat seorang perempuan yang cantik, para pria tidak jarang berkata, “cantiknya luar biasa”. Kita tentu masih begitu ingat dengan kehebatan para pelajar SMK yang berhasil membuat sebua...

Menghina (Guru) mu.

Renungan hari ini. Hari ini kita terlampau sering menemukan orang-orang yang sibuk memaki. Lebih dahsyat, yang dimaki ini guru bagi banyak orang, walau baginya, ya, dia bahkan tak tahu siapa yang sedang dimaki. Seringkali kita mengingatkan diri, bahwa ada banyak pesan dan amalan yang kita dapatkan dari guru. Bahkan guru pula yang menjadi salah satu tauladan bagi kita. Kita contoh. Lantas kemudian kita akan sedih dan sakit bila guru kita dimaki dengan mudahnya. Lebih dalam lagi, saya berpikir. Mereka yang memaki ini bukan berarti tidak tahu betapa pentingnya meneladani seorang guru. Bukan berarti ia tak punya guru. Ia tentu punya guru, hanya tak sama dengan kita. Guru kita bukanlah guru baginya. Barangkali itu yang kemudian membuat ia sangat enteng berkata kasar hingga meremehkan. Maka, di balik rasa sedih dan sakit kala melihat guru kita dimaki dan dihina, semoga kita tak lupa bersyukur. Bersyukur karena guru kita tak pernah memberi dan menjadi contoh bagaimana memaki dan menghina...