Mata Rantai Ilmu
Pengetahuan Masa Depan dan Degradasi Moral Hari ini.
Oleh: Rizka
Amalia Shofa
Ilmu
merupakan modal utama, subyek, dan juga obyek atas perkembangan segala
sesuatunya yang ada di dunia ini. Manusia berlomba-lomba melakukan
pengembangan, penelitian, dan riset sehubungan dengan ilmu pengetahuan. Bahkan
agama menegaskan pentingnya menuntut ilmu. Namun, apakah ilmu itu? Sudah
tepatkah manusia dalam mencari dan memanfaatkannya?
Ilmu berasal
dari bahasa Arab ‘alima ya’lamu, atau kata sains dari scio atau scrio
yang berarti untuk mencari tahu ( to know dalam bahasa Inggris). Secara
terminologi, ilmu atau sains adalah pengetahuan dengan ciri-ciri, tanda-tanda,
dan syarat-syarat tertentu. Menurut Ensiklopedia Indonesia, ilmu pengetahuan
yaitu suatu sistem dari berbagai ilmu pengetahuan tertentu yang telah diatur
dan disusun sedemikian rupa menurut asas-asas tertentu sehingga menjadi
kesatuan yang utuh sebagai hasil penelitian yang telah dilaksanakan secara
teliti dengan menggunakan metode tertentu. Ilmu secara bahasa adalah
pengetahuan tentang sesuatu yang disusun secara sistematis menurut
metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala
tertentu di bidang tersebut ( Bakhtiar:2005 ).
Ilmu memiliki
sifat fleksibel, akan terus berkembang sesuai perkembangan zaman atau
kebudayaan dan juga kemampuan bepikir manusia. Kemajuan perkembangan ilmu dalam
berbagai segi ini bertujuan untuk mempermudah pekerjaan manusia. Akan tetapi,
selalu ada sisi negatif di tiap hal yang eksis di muka bumi ini. Perkembangan
dan kecanggihan sebuah konsep ilmu turut menimbulkan kekhawatiran bagi manusia.
Ilmu dan teknologi yang semakin maju juga menimbulkan degradasi nilai. Manusia
tergantung pada benda-benda yang dikembangkan dari ilmu pengetahuan, seolah tak
bisa bekerja tanpa mereka. Akan tetapi produk tersebut memang dibutuhkan untuk
membantu manusia dalam melakukan pekerjaan mereka.
Hingga saat
ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi begitu pesat. Telah banyak
fasilitas yang tecipta demi terwujudnya kemudahan dalam aktivitas manusia.
Sejak suksesnya penelitian rekayasa genetika terhadap makhluk hidup yang telah
dirintis oleh Dr. Gurdon dari Medical Research Council Laboratory of
Molecular Biology, Universitas Cambridge, Inggris pada tahun 1961, teknologi
ini seperti menjadi ‘mainan baru’ yang tak bosan diotak-atik oleh para ilmuan
genetika. Jika pada masa itu mereka berhasil melakukan kloning pada katak,
kapankah teknologi tersebut berhasil pada manusia? Ide melakukan kloning pada
manusia ini tampaknya terus menjadi perbincangan oleh berbagai kalangan, dan
menjadi kontroversi.
Teknologi
kloning ini dikritisi oleh 19 negara Eropa pada tahun 1997 dengan
menandatangani pakta yang menyebutkan bahwa mengkloning manusia merupakan
pelanggaran martabat manusia dan merupakan penyalahgunaan ilmu. Belum lagi
dalam perspektif agama teknik rekayasa genetika tak layak diteruskan karena
terkesan membuat manusia berusaha menjadi tuhan, dengan memanipulasi teknologi
untuk menciptakan makhluk hidup.
Dalam
perkembangan teknologi, kita tak dapat mengesampingkan peran manusia yang
harusnya menjadi pengontrol. Teknologi hari esok sangat erat kaitannya dengan
manusia yang semakin merasa butuh melakukan banyak hal untuk mempermudahnya
melakukan segala sesuatu, yang tentunya berpengaruh pada pola pikir dan
menentukan karakter yang akan terbangun.
Sejumlah
peristiwa yang terjadi tentunya telah memberikan gambaran atas apa yang akan
kita hadapi di masa depan. Membicarakan ilmu pengetahuan, kita tak dapat
menomorduakan degradasi moral yang mulai terjadi dan terus meningkat. Moral
merupakan produk yang dihasilkan ilmu pengetahuan yang pada hakikatnya
dilakukan dengan memanusiakan manusia.
Hari ini, degradasi moral yang sering disoroti
dan menjadi penting adalah tentang perilaku anak muda yang cenderung makin tak
terkontrol dan mempengaruhi kebiasaan dan karakter. Selain pekembangan
teknologi yang begitu cepat, penyebabnya tentu tak dapat lepas dari banyaknya
figur-figur ‘media darling’ yang menunjukkan labilnya karakter manusia
yang secara tak langsung menjadi stimulan bagi pengembangan moral generasi muda,
serta menghambat implementasi ilmu pengetahuan yang harusnya dapat membangun
karakter manusia. Jumlah fenomena degradasi moral yang tidak sedikit
menunjukkan bahwa lama kelamaan degradasi moral menjadi sesuatu yang dimaklumi.
Sepuluh hingga lima belas tahun kedepan, anak muda yang saat
ini mendapat stimulan tersebut akan menggantikan pemimpin-pemimpin yang ada
saat ini. Jika penguatan kualitas karakter dalam implementasi ilmu pengetahuan
tak dilakukan secara massive, maka yang nanti terjadi bukan lagi
pemakluman terhadap korupsi dan tindakan tak terpuji lainnya, tetapi juga
pembiaran yang berarti mengancam mental pemimpin masa depan.
Pada masa yang
akan datang, masyarakat akan mengedepankan prisip individualis dan kurangnya
interaksi sosial. Hal ini yang menjadi kekhawatiran jika hari ini masih saja
mendiamkan dan memaklumi degradasi moral. Yang tak kalah mengkhawatirkan adalah
krisis kemanusiaan karena gagasan, ide, atau ideologi dalam proses ilmu
pengetahuan yang tak utuh dan salah interpretasi, yang tentunya berpengaruh
pada sikap hingga karakter manusia di masa depan.
Semua agama yang ada di dunia ini mengajarkan umat untuk
menuntut ilmu, bahkan behukum wajib. Namun, bukan berarti hal ini menyebabkan
kita lepas kontrol dan mengeksplorasi ilmu tanpa mempertimbangkan nilai-nilai
dan norma. Disinilah peran agama sebagai kontrol terhadap pengembangan ilmu,
agar manusia dapat mengembangkannya dengan benar dan tak kehilangan hati nurani
mereka. Agama juga berperan sebagai filter terhadap perkembangan ilmu,
memberikan rambu-rambu, bahwa hal positif dari ilmu pengetahuan dapat digunakan
dan diaplikasikan dalam kehidupan manusia sementara hal negatif yang dekat
dengan degradasi moral disingkirkan.
Referensi:
Bakhtiar,
Amsal. 2009. Filsafat Ilmu. Jakarta: Rajawali Press
Soeprapto,
S. 2003. Landasan Penelaahan Ilmu. Dalam Filsafat Ilmu. Cetakan ketiga.
Penerbit Liberty. Yogyakarta.
Tjahyadi,
S. 2005. Ilmu, Teknologi dan Kebudayaan. Dalam Filsafat Ilmu. Cetakan ketiga.
Penerbit Liberty. Yogyakarta.
Komentar
Posting Komentar