Langsung ke konten utama

Menemukan Jutaan Kehilangan

Pernah ada yang mengingatkanku, bahwa akan selalu ada hal yang tak sesuai bayangan atau keinginan. Di dunia ini bukan hanya ada rencana, tapi ada pula kejutan. Sayangnya, seringkali kita sibuk menyiapkan diri dan hanya mendominasi diri dengan kesiapan menerima kejutan baik, kejutan yang menyenangkan. Padahal, ada kejutan yang bukan hanya tak pernah terbayang, bahkan berlawanan dengan kejutan yang kita bayangkan.

Kadang kita sibuk menyiapkan diri untuk menerima segala hal, tetapi kita lupa bersiap untuk kehilangan. Selanjutnya kita akan bilang bahwa kehilangan adalah kesedihan. Apa iya? Saya tak percaya. Yang saya yakini, kehilangan muncul bukan untuk membawa kita pada kepedihan. Justru, kita diajak belajar bahwa ke depan kita tidak akan hidup dengan orang yang sama dan di tempat yang sama. Segala hal yang kita miliki juga takkan pernah sama. Yang kita anggap hilang, bisa saja hendak diganti. Bukan mau pergi begitu saja.

Lalu, sebetulnya apa makna segala perjalanan yang memertemukan kita dengan yang baru, kemudian tak jarang memisahkan kita dengan yang lama?

Yang jelas, Dia ingin tunjukkan bahwa sebanyak apapun kita kehilangan, akan selalu ada hal lain yang kita temukan. Barangkali tak selalu sesuai keinginan, tetapi kita harus menerima untuk kemudian menemukan makna.

Ya, makna. Sudah seberapa jauh kita coba menemukannya dalam sebuah pertemuan, bahkan jutaan kehilangan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

We Have "Luar Binasa" Behind The "Luar Biasa"

K ita mungkin tidak asing dengan istilah ‘luar biasa’. Luar biasa adalah ungkapan ketika kita takjub melihat sesuatu, baik ciptaan Allah, maupun ciptaan manusia. Kata ‘luar biasa’ sering diplesetkan dengan ‘luar binasa’. Nah, mari kita belajar dari ‘luar binasa’. Tanpa kita sadari, istilah ‘luar binasa’ bisa kita jadikan sebagai suatu hal yang dapat membuat kita lebih semangat dalam menjalani segala macam tantangan hidup. Mengapa demikian? Kata binasa sendiri mempunyai arti hilang, mati atau gugur. Mungkin memang tidak ada kedekatan arti antara ‘biasa’ dan ‘binasa’ meskipun mereka mempunyai struktur kata yang mirip jika diucapkan. Orang mengucapkan kata ‘luar biasa’ saat takjub mungkin karena hal yang menakjubkan tersebut memang keluar dari hal yang biasa dilihat. Misalkan ketika melihat seorang perempuan yang cantik, para pria tidak jarang berkata, “cantiknya luar biasa”. Kita tentu masih begitu ingat dengan kehebatan para pelajar SMK yang berhasil membuat sebua...

I'm Back!

Shock berat pas ngecek tanggal tulisan terakhir di blog. 19 Juli 2018. Udah hampir 2 tahun. Gimana saya bisa selama ini ninggalin blog? Salah satunya ya karena..., lupa bayar domain dan nggak tahu cara balikinnya. LOL~ Baiklah, ini konyol tapi ya sudah. Begitulah kenyataannya. 😴 Apa kabar kalian? Semoga baik, ya. Tetep betah di rumah karena sekarang masih bahaya corona. Ya ya, pasti kalian bosen denger nama penyakit itu. But , kita memang harus lawan. Lantas, bagaimana kabar saya? Hmmm, saya baik dan sudah setahun lebih menikah. Hehehe~ Yup, 10 Februari 2019 saya menikah dengan lelaki yang saya cintai, Ahmad Zaini Aziz. Apakah pernikahan selalu menyenangkan seperti yang saya bayangkan? Sejujurnya, saya sih nggak pernah membayangkan bahwa menikah itu akan selalu menyenangkan. Saya sangat paham bahwa menikah itu soal ibadah dan belajar yang akan bikin kita bahagia. Bukan sekadar senang. Bahagia itu, ya, ternyata bukan hanya soal kumpulan hal menyenangkan. Ketika...

Menghina (Guru) mu.

Renungan hari ini. Hari ini kita terlampau sering menemukan orang-orang yang sibuk memaki. Lebih dahsyat, yang dimaki ini guru bagi banyak orang, walau baginya, ya, dia bahkan tak tahu siapa yang sedang dimaki. Seringkali kita mengingatkan diri, bahwa ada banyak pesan dan amalan yang kita dapatkan dari guru. Bahkan guru pula yang menjadi salah satu tauladan bagi kita. Kita contoh. Lantas kemudian kita akan sedih dan sakit bila guru kita dimaki dengan mudahnya. Lebih dalam lagi, saya berpikir. Mereka yang memaki ini bukan berarti tidak tahu betapa pentingnya meneladani seorang guru. Bukan berarti ia tak punya guru. Ia tentu punya guru, hanya tak sama dengan kita. Guru kita bukanlah guru baginya. Barangkali itu yang kemudian membuat ia sangat enteng berkata kasar hingga meremehkan. Maka, di balik rasa sedih dan sakit kala melihat guru kita dimaki dan dihina, semoga kita tak lupa bersyukur. Bersyukur karena guru kita tak pernah memberi dan menjadi contoh bagaimana memaki dan menghina...