Langsung ke konten utama

Tuhan, Ini Tentang Logika dan Perasaan.

Tuhan, aku tahu, Engkau telah ciptakan jutaan manusia di dunia tuk saling peduli satu sama lain.
Tuhan, ini bukan tentang kewajiban tuk saling membantu, tetapi kesadaran tentang kewajiban masing-masing. Minimal, sadar akan kewajiban diri sendiri. Hidup diri sendiri di dunia dan di akhirat.

Tuhan, bukankah sebagai sesama manusia kami tak seharusnya ingin selalu diingatkan orang lain? Ajarkan kami tuk selalu mampu ingatkan diri masing-masing, atas (setidaknya) kewajiban masing-masing juga.

Ini tentang logika. Begini, Tuhan. Bagaimana orang lain dengan senang hati mau peduli dan mengingatkanku tentang apa yang harus aku lakukan, jika aku tak peduli dan berusaha mengingatkan diriku sendiri? Kurasa manusia lain banyak setuju tentang hal ini.

Maka, Tuhan, beri kami kemampuan untuk menyadari kewajiban kami terhadap diri sendiri agar tak tercipta menjadi manusia yang ingin selalu dipedulikan namun tak mau memperdulikan.

Astaghfirullah, tentu itu bukan hal baik. Iya, kan, Tuhan?

Maafkan aku, jika kali ini timbul bercak dihatiku. Aku masih terus berharap ridloMu tuk ajak aku selalu membersihkan hati tiap kali ternoda.

Aku tahu, habluminallah itu tak bisa selalu sampai jika aku hanya memikirkan logika. Namun ketika aku berbicara tentang habluminannas, hubungan antar manusia, terlalu sok baikkah aku, jika aku terlalu memperhatikan bagaimana logika dan etika itu punya peran begitu penting?

Ah, Tuhan, ajak aku tuk menjadi manusia yang mau menerima dan membantu, setidaknya karena meneladaniMu yang selalu menerima dan membantuku tak kenal waktu dan ruang.

Tuhan, lagi-lagi ini tentang logika. seringkali aku merasa kecil hati karena bertemu dan berbicara dengan sosok-sosok yang kurasa tak peduli dengan apa yang harus ia lakukan untuk dirinya sendiri.

Tuhan, ajak aku untuk menyadari bahwa sesungguhnya apa yang aku temui adalah cermin diri dan pelajaran agar diriku lebih baik lagi sebagai makhlukMu.

Terima kasih atas segala cintaMu, Tuhan....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

We Have "Luar Binasa" Behind The "Luar Biasa"

K ita mungkin tidak asing dengan istilah ‘luar biasa’. Luar biasa adalah ungkapan ketika kita takjub melihat sesuatu, baik ciptaan Allah, maupun ciptaan manusia. Kata ‘luar biasa’ sering diplesetkan dengan ‘luar binasa’. Nah, mari kita belajar dari ‘luar binasa’. Tanpa kita sadari, istilah ‘luar binasa’ bisa kita jadikan sebagai suatu hal yang dapat membuat kita lebih semangat dalam menjalani segala macam tantangan hidup. Mengapa demikian? Kata binasa sendiri mempunyai arti hilang, mati atau gugur. Mungkin memang tidak ada kedekatan arti antara ‘biasa’ dan ‘binasa’ meskipun mereka mempunyai struktur kata yang mirip jika diucapkan. Orang mengucapkan kata ‘luar biasa’ saat takjub mungkin karena hal yang menakjubkan tersebut memang keluar dari hal yang biasa dilihat. Misalkan ketika melihat seorang perempuan yang cantik, para pria tidak jarang berkata, “cantiknya luar biasa”. Kita tentu masih begitu ingat dengan kehebatan para pelajar SMK yang berhasil membuat sebua...

I'm Back!

Shock berat pas ngecek tanggal tulisan terakhir di blog. 19 Juli 2018. Udah hampir 2 tahun. Gimana saya bisa selama ini ninggalin blog? Salah satunya ya karena..., lupa bayar domain dan nggak tahu cara balikinnya. LOL~ Baiklah, ini konyol tapi ya sudah. Begitulah kenyataannya. 😴 Apa kabar kalian? Semoga baik, ya. Tetep betah di rumah karena sekarang masih bahaya corona. Ya ya, pasti kalian bosen denger nama penyakit itu. But , kita memang harus lawan. Lantas, bagaimana kabar saya? Hmmm, saya baik dan sudah setahun lebih menikah. Hehehe~ Yup, 10 Februari 2019 saya menikah dengan lelaki yang saya cintai, Ahmad Zaini Aziz. Apakah pernikahan selalu menyenangkan seperti yang saya bayangkan? Sejujurnya, saya sih nggak pernah membayangkan bahwa menikah itu akan selalu menyenangkan. Saya sangat paham bahwa menikah itu soal ibadah dan belajar yang akan bikin kita bahagia. Bukan sekadar senang. Bahagia itu, ya, ternyata bukan hanya soal kumpulan hal menyenangkan. Ketika...

Menghina (Guru) mu.

Renungan hari ini. Hari ini kita terlampau sering menemukan orang-orang yang sibuk memaki. Lebih dahsyat, yang dimaki ini guru bagi banyak orang, walau baginya, ya, dia bahkan tak tahu siapa yang sedang dimaki. Seringkali kita mengingatkan diri, bahwa ada banyak pesan dan amalan yang kita dapatkan dari guru. Bahkan guru pula yang menjadi salah satu tauladan bagi kita. Kita contoh. Lantas kemudian kita akan sedih dan sakit bila guru kita dimaki dengan mudahnya. Lebih dalam lagi, saya berpikir. Mereka yang memaki ini bukan berarti tidak tahu betapa pentingnya meneladani seorang guru. Bukan berarti ia tak punya guru. Ia tentu punya guru, hanya tak sama dengan kita. Guru kita bukanlah guru baginya. Barangkali itu yang kemudian membuat ia sangat enteng berkata kasar hingga meremehkan. Maka, di balik rasa sedih dan sakit kala melihat guru kita dimaki dan dihina, semoga kita tak lupa bersyukur. Bersyukur karena guru kita tak pernah memberi dan menjadi contoh bagaimana memaki dan menghina...