Saat ini, banyak
sekali anak muda yang galau bukan karena masalah percintaan, tetapi karena passion
(padahal passion juga berhubungan dengan hal yang kita cintai. eaaa.).
Tak sedikit yang bertanya pada saya tentang hal itu. Mulai dari definisinya
hingga bagaimana menemukannya. Sejujurnya, tiap orang akan berbeda-beda dalam
memaknai passion. Bagi saya, passion adalah langkah penuh
kebahagiaan dan perkembangan. Bukan passion namanya kalau kita hanya
berhenti di tempat dan sibuk di satu titik saja.
Beberapa waktu
yang lalu saya bertemu dengan Mas Rene Suhardono, Coach yang energik dan kece
itu (biar dia seneng aja, nih :p). Pembahasan yang tak pernah terlewatkan jika
bertemu Mas Rene adalah tentang passion. Mulai dari tujuan hidup hingga
bagaimana kita mau menjalaninya. Kenapa tujuan sangat penting? Karena passion
harus sejalan dengan tujuan hidup kita. Kalau ada pertanyaan, “Apa passionmu?”
lalu kita menjawab, “Membagikan manfaat pada banyak orang,” maka sebetulnya itu
adalah tujuan hidup kita. Passion harus lebih spesifik karena berkaitan
dengan yang kita lakukan.
Tiga pertanyaan
yang menjadi kunci adalah; Apa yang memberimu kekuatan dalam melangkah? Mengapa
hal itu menjadi kekuatan? Menurutmu, apa yang dimaksud passion?. Tiga
pertanyaan itu akan sangat membingungkan jika kita hanya menjawabnya dengan
otak. Kali ini hati harus punya peran penting karena berkaitan dengan yang kita
rasakan. Saat ditanya seperti itu, jawaban saya: yang memberi kekuatan dalam
melangkah adalah mimpi yang dibuat dan tekad. Keduanya menjadi kekuatan karena
dapat menjadi bukti tanggung jawab kita pada hal yang kita pilih (mimpi).
Tentang passion, bagi saya, passion adalah segala yang membuat
bahagia dan membuat kita rela melakukannya.
Tiga pertanyaan
itu dilanjutkan dengan pertanyaan, “Kamu merasa berdaya saat….?”.
Jawaban dari pertanyaan ini akan sangat berkaitan dengan bagaimana kita
memaknai passion. Kata “saat” pada pertanyaan menunjukkan bahwa jawaban
kita harusnya berupa hal yang sudah pernah kita lakukan. Beda dengan pertanyaan
yang menggunakan kata “kalau”. Pertanyaan ini akan mengacu ke pengandaian dan
cenderung belum dilakukan, misalnya, “Kalau aku menulis, aku akan……”. Saat Mas
Rene menanyakan hal ini, beberapa teman masih menjawabnya dengan jawaban general,
belum spesifik. Misalkan jawaban, “Membagikan manfaat pada banyak orang,”,
jawaban ini belum spesifik. Tak semua hal yang bertujuan membagikan manfaat
dapat kita jalani dengan bahagia, seperti makna passion.
Jawaban dari
pertanyaan terakhir ini harus berupa hal-hal yang kita sukai dan membuat kita
bahagia, dan harus spesifik kepada siapa kita melakukan hal tersebut, beserta
alasannya. Misalnya, “Saya merasa berdaya saat berbicara tentang mimpi dan optimisme
pada anak muda, karena saya ingin membuat mereka yakin tuk berani membuat mimpi
dan optimis mewujudkannya. Bukan hanya berhenti pada membuat daftar mimpi saja.”.
Pada bagian ini kita telah memasuki fase cara menemukan passion. Kita perlu
mencoba membuat passion map yang berisi tentang daftar hal yang sering
kita lakukan, lalu menyeleksi dengan beberapa kriteria, diantaranya; mana yang
paling menghabiskan waktu? Mana yang sering membuat kita lupa waktu karena
terlalu bahagia melakukannya? Mana yang membuat kita merasa mendapatkan outcome?
Mana yang paling dibutuhkan banyak orang?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus
kita pikirkan saat kita ingin menemukan passion.
Passion tak dapat lepas dari misi dan komunikasi. Apa hubungannya? Akan saya bahas di tulisan selanjutnya. Sampai ketemu! ^^
Komentar
Posting Komentar