Langsung ke konten utama

Hei, Kau.

Hei, siang ini terlalu banyak tanya dan syukur dalam benak dan dada, untukMu. Mengapa Kau selalu hadir di lingkaran teka-teki dan kebahagiaan? Jika aku akan sibuk mencari jawaban saat banyak pertanyaan menghujam, Kau justru selalu menjawab tanya dengan berbagai cara.
Tak jarang, awalnya jawaban itu membuatku merasa dijatuhkan. Namun, lagi-lagi Kau tunjukkan dengan bisik dan desir dalam rasa, bahwa sesungguhnya jawaban dariMu adalah pengingat dan pembangkit. Kadang Kau menjawab dengan luka, tapi keperihan itu tertutup dan hilang dengan sempurna, beriring dan tumbuh menjadi kekuatan. Karena apa? Karena Kau selalu tepati janjiMu yang takkan pernah meninggalkanku. Padahal, hei, Kau tentu tahu, aku masih saja nakal jika kadang lupa denganMu. Namun, Kau selalu saja menepuk bahuku, mengingatkan bahwa segala yang Kau dampingi dan mencintaiMu akan berujung senyum dan kekuatan.
Jika kadang ada rasa sendirian dan tak kuasa karena terlalu asyik menebak teka-tekiMu, lagi-lagi, Kau akan setia hadir dan berjanji tuk selalu menemani, mencari jawaban dari teka-teki yang ada. Saat manusia sedang rajin sibuk menebar kode tuk dapatkan yang dimau, tiada yang mampu kalahkan Kau, hei Sang Maha Pemberi Kode. Teka-teki itu seringkali terjawab dari remahan kode yang selalu Kau tunjukkan agar aku tumbuh lebih kuat, karena percaya selalu ada Kau yang tunjukkan jalan.
Makhluk seshalih Muhammad dan setegar Khadijah saja tak pernah mampu lepas dariMu, lalu, apa dayaku terus saja mengaku dan merasa sendiri? Terlalu sombong rasanya, jika makhluk yang masih sering lemah ini sok-sokan kuat tanpaMu. Tidakkah aku sadar, bahwa sungguh, bahkan saat aku merasa sendirian, Kau tetap mendampingi. Kadang dalam diam, kadang lewat desir dan air mata keharuan yang berakhir kebangkitan.
Jika hingga detik ini masih banyak teka-teki yang belum terjawab, aku tak perlu khawatir, kan? Kau tetap setia, mendampingiku dengan CintaMu. Kau pun selalu mengajakku melangkah, menguat, dan tak pernah sanggup melenyapkan Kuasa dan KejutanMu. Hei, Kau. Kau tentu tahu apa yang kumau, tetapi Kau selalu lebih tahu apa yang kuperlu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teman Perjalanan

Ada yang pernah mengingatkanku, bahwa yang terpenting dalam menemukanmu adalah memastikan bahwa kamu dapat menjamin langkahku ringan tanpa terjal. Tak sedikit pula yang bilang, kamu haruslah orang yang lebih kuat dariku. Suatu kali aku berpikir. Kenapa orang-orang sibuk memilih dengan patokan patokan yang seolah disebut terbaik? Padahal, bila hari ini kubilang kamu yang terbaik, esok hari aku akan temukan yang lebih baik darimu. Itu pasti, dan akan terus begitu. Aku kemudian berpikir lagi. Bukannya kita sedang berupaya menemukan teman perjalanan? Artinya, aku juga akan ikut berjalan... Bukan hanya akan kau seret sedangkan aku terlalu malas karena hanya mau kau upayakan. Bagiku, kamu tak perlu susah payah berlagak sok kuat dariku, bahkan tak perlu sibuk berupaya sendirian tuk mengajakku maju ke depan. Kita, nantinya, dipersatukan bukan untuk selalu berharap diberikan petunjuk agar tak tersesat. Bukan itu. Kita, justru akan bersatu karena mau men...

We Have "Luar Binasa" Behind The "Luar Biasa"

K ita mungkin tidak asing dengan istilah ‘luar biasa’. Luar biasa adalah ungkapan ketika kita takjub melihat sesuatu, baik ciptaan Allah, maupun ciptaan manusia. Kata ‘luar biasa’ sering diplesetkan dengan ‘luar binasa’. Nah, mari kita belajar dari ‘luar binasa’. Tanpa kita sadari, istilah ‘luar binasa’ bisa kita jadikan sebagai suatu hal yang dapat membuat kita lebih semangat dalam menjalani segala macam tantangan hidup. Mengapa demikian? Kata binasa sendiri mempunyai arti hilang, mati atau gugur. Mungkin memang tidak ada kedekatan arti antara ‘biasa’ dan ‘binasa’ meskipun mereka mempunyai struktur kata yang mirip jika diucapkan. Orang mengucapkan kata ‘luar biasa’ saat takjub mungkin karena hal yang menakjubkan tersebut memang keluar dari hal yang biasa dilihat. Misalkan ketika melihat seorang perempuan yang cantik, para pria tidak jarang berkata, “cantiknya luar biasa”. Kita tentu masih begitu ingat dengan kehebatan para pelajar SMK yang berhasil membuat sebua...

Menghina (Guru) mu.

Renungan hari ini. Hari ini kita terlampau sering menemukan orang-orang yang sibuk memaki. Lebih dahsyat, yang dimaki ini guru bagi banyak orang, walau baginya, ya, dia bahkan tak tahu siapa yang sedang dimaki. Seringkali kita mengingatkan diri, bahwa ada banyak pesan dan amalan yang kita dapatkan dari guru. Bahkan guru pula yang menjadi salah satu tauladan bagi kita. Kita contoh. Lantas kemudian kita akan sedih dan sakit bila guru kita dimaki dengan mudahnya. Lebih dalam lagi, saya berpikir. Mereka yang memaki ini bukan berarti tidak tahu betapa pentingnya meneladani seorang guru. Bukan berarti ia tak punya guru. Ia tentu punya guru, hanya tak sama dengan kita. Guru kita bukanlah guru baginya. Barangkali itu yang kemudian membuat ia sangat enteng berkata kasar hingga meremehkan. Maka, di balik rasa sedih dan sakit kala melihat guru kita dimaki dan dihina, semoga kita tak lupa bersyukur. Bersyukur karena guru kita tak pernah memberi dan menjadi contoh bagaimana memaki dan menghina...