Langsung ke konten utama

Dialog Hati dan Ilahi.

Tiap usai shalat, doa yang paling sering dipanjatkan manusia adalah tentang hati. Berdoa agar dilapangkan hatinya, dihindarkan dari segala penyakit hati, dan lainnya. Membentengi hati dari segala rasa memang tak mudah.
Jika tangan akan dibantu kaki dan organ tubuh lainnya untuk saling membantu dalam bergerak, berbeda dengan hati. Ia adalah satu-satunya bagian tubuh yang menjadi pusat rasa. Ia tak mampu berbagi rasa dengan bagian tubuh lainnya. Jika para peneliti berhasil mengetahui gerak dan kapasitas otak manusia, belum ada yang berhasil paparkan kapasitas hati dalam menyimpan dan mengendalikan rasa. Jika banyak peneliti dapat memaparkan bahwa tingkat konsentrasi otak dapat maksimal 30 menit, belum ada yang memaparkan berapa lama rata-rata hati manusia dapat konsisten dengan tujuan awalnya. Sebegitu misteriusnya hati. Maka, dalam hal ini, segala doa tentang hati harus tetap dibentengi dengan diri sebagai pengendali.


Kita tak dapat memilih hal yang kita dengar dan lihat. Sering kita melihat hal yang sebetulnya tak mau kita lihat, mendengar hal yang tak ingin kita dengar. Namun sebagai indera yang diciptakan begitu peka, mata dan telinga tak mampu menolak. Kuncinya ada pada hati, mata batin kita. Melatih hati agar tak mudah tersulut karena segala hal yang dilihat dan didengar, bukan pekerjaan mudah. Namun pernahkah kita berpikir, mengapa Allah hanya ciptakan satu hati untuk jutaan rasa? Karena Allah yakin dengan hanya sebuah hati yang tak terukur kapasitasnya, makhlukNya mampu mengamalkan ilmu kelapangan hati, mengendalikan diri agar tak mudah disakiti dan tersakiti. Diciptakannya sebuah hati itu adalah bentuk kepercayaan Allah akan kemampuan manusia belajar menggerakkan hati dan bersinergi dengan sifatNya Yang Maha Membolak-Balikkan hati. Berdialoglah dengan hati, maka diri takkan lepas dari Ilahi. Saat kita belajar mengontrol diri, sesungguhnya kita tak pernah menyimpan rasa sendiri. KuasaNya takkan mengingkari...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teman Perjalanan

Ada yang pernah mengingatkanku, bahwa yang terpenting dalam menemukanmu adalah memastikan bahwa kamu dapat menjamin langkahku ringan tanpa terjal. Tak sedikit pula yang bilang, kamu haruslah orang yang lebih kuat dariku. Suatu kali aku berpikir. Kenapa orang-orang sibuk memilih dengan patokan patokan yang seolah disebut terbaik? Padahal, bila hari ini kubilang kamu yang terbaik, esok hari aku akan temukan yang lebih baik darimu. Itu pasti, dan akan terus begitu. Aku kemudian berpikir lagi. Bukannya kita sedang berupaya menemukan teman perjalanan? Artinya, aku juga akan ikut berjalan... Bukan hanya akan kau seret sedangkan aku terlalu malas karena hanya mau kau upayakan. Bagiku, kamu tak perlu susah payah berlagak sok kuat dariku, bahkan tak perlu sibuk berupaya sendirian tuk mengajakku maju ke depan. Kita, nantinya, dipersatukan bukan untuk selalu berharap diberikan petunjuk agar tak tersesat. Bukan itu. Kita, justru akan bersatu karena mau men...

We Have "Luar Binasa" Behind The "Luar Biasa"

K ita mungkin tidak asing dengan istilah ‘luar biasa’. Luar biasa adalah ungkapan ketika kita takjub melihat sesuatu, baik ciptaan Allah, maupun ciptaan manusia. Kata ‘luar biasa’ sering diplesetkan dengan ‘luar binasa’. Nah, mari kita belajar dari ‘luar binasa’. Tanpa kita sadari, istilah ‘luar binasa’ bisa kita jadikan sebagai suatu hal yang dapat membuat kita lebih semangat dalam menjalani segala macam tantangan hidup. Mengapa demikian? Kata binasa sendiri mempunyai arti hilang, mati atau gugur. Mungkin memang tidak ada kedekatan arti antara ‘biasa’ dan ‘binasa’ meskipun mereka mempunyai struktur kata yang mirip jika diucapkan. Orang mengucapkan kata ‘luar biasa’ saat takjub mungkin karena hal yang menakjubkan tersebut memang keluar dari hal yang biasa dilihat. Misalkan ketika melihat seorang perempuan yang cantik, para pria tidak jarang berkata, “cantiknya luar biasa”. Kita tentu masih begitu ingat dengan kehebatan para pelajar SMK yang berhasil membuat sebua...

Menghina (Guru) mu.

Renungan hari ini. Hari ini kita terlampau sering menemukan orang-orang yang sibuk memaki. Lebih dahsyat, yang dimaki ini guru bagi banyak orang, walau baginya, ya, dia bahkan tak tahu siapa yang sedang dimaki. Seringkali kita mengingatkan diri, bahwa ada banyak pesan dan amalan yang kita dapatkan dari guru. Bahkan guru pula yang menjadi salah satu tauladan bagi kita. Kita contoh. Lantas kemudian kita akan sedih dan sakit bila guru kita dimaki dengan mudahnya. Lebih dalam lagi, saya berpikir. Mereka yang memaki ini bukan berarti tidak tahu betapa pentingnya meneladani seorang guru. Bukan berarti ia tak punya guru. Ia tentu punya guru, hanya tak sama dengan kita. Guru kita bukanlah guru baginya. Barangkali itu yang kemudian membuat ia sangat enteng berkata kasar hingga meremehkan. Maka, di balik rasa sedih dan sakit kala melihat guru kita dimaki dan dihina, semoga kita tak lupa bersyukur. Bersyukur karena guru kita tak pernah memberi dan menjadi contoh bagaimana memaki dan menghina...