Untuk tiap lembar yang tak asing dengan ucapan.
Tiap jarak yang akrab dengan kisah dalam lajuan.
Tercipta bukan lagi oleh waktu, namun desir tak berbau.
Takdir bukan tentang siapa yang maju dahulu, menangkap buih makna yang kadang tak kunjung temu.
Bahwa hentak yang kadang retak justru penguat yang menyeruak.
Ukir tinta ditemani bulir haru mengharap biru.
Napas dan degup tak lagi jadi saksi tentang siapa yang mau mengisi, tetapi mengerti bahwa ada jejak yang satu frekuensi.
Ada yang pernah mengingatkanku, bahwa yang terpenting dalam menemukanmu adalah memastikan bahwa kamu dapat menjamin langkahku ringan tanpa terjal. Tak sedikit pula yang bilang, kamu haruslah orang yang lebih kuat dariku. Suatu kali aku berpikir. Kenapa orang-orang sibuk memilih dengan patokan patokan yang seolah disebut terbaik? Padahal, bila hari ini kubilang kamu yang terbaik, esok hari aku akan temukan yang lebih baik darimu. Itu pasti, dan akan terus begitu. Aku kemudian berpikir lagi. Bukannya kita sedang berupaya menemukan teman perjalanan? Artinya, aku juga akan ikut berjalan... Bukan hanya akan kau seret sedangkan aku terlalu malas karena hanya mau kau upayakan. Bagiku, kamu tak perlu susah payah berlagak sok kuat dariku, bahkan tak perlu sibuk berupaya sendirian tuk mengajakku maju ke depan. Kita, nantinya, dipersatukan bukan untuk selalu berharap diberikan petunjuk agar tak tersesat. Bukan itu. Kita, justru akan bersatu karena mau men...
Komentar
Posting Komentar