Langsung ke konten utama

Monolog Diri.

Tiap hari kita dihadapkan pada banyak pilihan hidup. Saking banyaknya, saya sangat percaya bahwa Allah ciptakan kita untuk belajar memilih, termasuk memilih menyembahNya. Dalam hal kehidupan sosial, pilihan itu makin banyak macamnya. Tentang memilih pasangan hidup, tempat tinggal, bahkan memilih masa depan. Semuanya akan kita lakukan, maka kita pula yang harus memilihnya. Seringkali yang sulit adalah ketika kita harus memilih dua (atau bahkan lebih) hal yang sama baiknya dan semuanya kita inginkan. Skala prioritas adalah pertimbangan utama dalam memilih. Namun ternyata, saat kita hendak memilih bergerak untuk banyak orang, selalu ada (entah ego atau apapun) ruang untuk memikirkan diri sendiri. Tentang cita-cita masa depan beserta mimpi yang dibangun dan diraih perlahan. Saat kita ditawarkan beberapa hal yang sama pentingnya (walau mungkin tingkat pentingnya tak sama, tapi sama-sama penting), kita tentu akan mempertimbangkan dengan matang. Saat pilihan itu berujung pada sumbu yang berbeda (aktualisasi diri untuk ummat dan produktifitas diri untuk tingkatkan kapasitas), kita sering ingin memilih keduanya. Ingin keduanya berjalan beriringan. Namun ternyata, lagi-lagi, pilihan tetaplah harus dipilih. Tentu kita ingin menjadi insan yang bermanfaat bagi banyak orang. Namun yang perlu kita catat, jangan sampai kita seperti lilin. Ia menerangi banyak orang, tetapi membakar dirinya sendiri. Saat kita ingin dua hal berjalan beriringan, selalu akan ada fase keduanya saling mengejar pencapaian. Takkan seimbang selamanya. Mungkin, ada kalanya kita harus memilih salah satu dan meninggalkan sejenak satu hal lainnya. Oh, maaf, bukan meninggalkan. Hanya pergi sejenak. Pergi untuk kembali dan menyempurnakan. Walau ini tentang hati, tapi ini bukan tentang pilihan pendamping hidup dan jodoh. Masalah itu, tiap insan melewati proses yang berbeda-beda. Namun yang jelas, jika kita memilih sesuatu, pilihlah dengan yakin, bukan hanya tuk mendapatkan yang terbaik, tetapu juga tuk sama-sama mau memperbaiki diri. :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teman Perjalanan

Ada yang pernah mengingatkanku, bahwa yang terpenting dalam menemukanmu adalah memastikan bahwa kamu dapat menjamin langkahku ringan tanpa terjal. Tak sedikit pula yang bilang, kamu haruslah orang yang lebih kuat dariku. Suatu kali aku berpikir. Kenapa orang-orang sibuk memilih dengan patokan patokan yang seolah disebut terbaik? Padahal, bila hari ini kubilang kamu yang terbaik, esok hari aku akan temukan yang lebih baik darimu. Itu pasti, dan akan terus begitu. Aku kemudian berpikir lagi. Bukannya kita sedang berupaya menemukan teman perjalanan? Artinya, aku juga akan ikut berjalan... Bukan hanya akan kau seret sedangkan aku terlalu malas karena hanya mau kau upayakan. Bagiku, kamu tak perlu susah payah berlagak sok kuat dariku, bahkan tak perlu sibuk berupaya sendirian tuk mengajakku maju ke depan. Kita, nantinya, dipersatukan bukan untuk selalu berharap diberikan petunjuk agar tak tersesat. Bukan itu. Kita, justru akan bersatu karena mau men...

We Have "Luar Binasa" Behind The "Luar Biasa"

K ita mungkin tidak asing dengan istilah ‘luar biasa’. Luar biasa adalah ungkapan ketika kita takjub melihat sesuatu, baik ciptaan Allah, maupun ciptaan manusia. Kata ‘luar biasa’ sering diplesetkan dengan ‘luar binasa’. Nah, mari kita belajar dari ‘luar binasa’. Tanpa kita sadari, istilah ‘luar binasa’ bisa kita jadikan sebagai suatu hal yang dapat membuat kita lebih semangat dalam menjalani segala macam tantangan hidup. Mengapa demikian? Kata binasa sendiri mempunyai arti hilang, mati atau gugur. Mungkin memang tidak ada kedekatan arti antara ‘biasa’ dan ‘binasa’ meskipun mereka mempunyai struktur kata yang mirip jika diucapkan. Orang mengucapkan kata ‘luar biasa’ saat takjub mungkin karena hal yang menakjubkan tersebut memang keluar dari hal yang biasa dilihat. Misalkan ketika melihat seorang perempuan yang cantik, para pria tidak jarang berkata, “cantiknya luar biasa”. Kita tentu masih begitu ingat dengan kehebatan para pelajar SMK yang berhasil membuat sebua...

Menghina (Guru) mu.

Renungan hari ini. Hari ini kita terlampau sering menemukan orang-orang yang sibuk memaki. Lebih dahsyat, yang dimaki ini guru bagi banyak orang, walau baginya, ya, dia bahkan tak tahu siapa yang sedang dimaki. Seringkali kita mengingatkan diri, bahwa ada banyak pesan dan amalan yang kita dapatkan dari guru. Bahkan guru pula yang menjadi salah satu tauladan bagi kita. Kita contoh. Lantas kemudian kita akan sedih dan sakit bila guru kita dimaki dengan mudahnya. Lebih dalam lagi, saya berpikir. Mereka yang memaki ini bukan berarti tidak tahu betapa pentingnya meneladani seorang guru. Bukan berarti ia tak punya guru. Ia tentu punya guru, hanya tak sama dengan kita. Guru kita bukanlah guru baginya. Barangkali itu yang kemudian membuat ia sangat enteng berkata kasar hingga meremehkan. Maka, di balik rasa sedih dan sakit kala melihat guru kita dimaki dan dihina, semoga kita tak lupa bersyukur. Bersyukur karena guru kita tak pernah memberi dan menjadi contoh bagaimana memaki dan menghina...