Langsung ke konten utama

Dakwah; Jadilah, Bukan (Hanya) Berilah.

Sebagai muslim, kita tentu tak asing dengan istilah dakwah. Dakwah sendiri berarti ajakan atau panggilan. Nah, biasanya, ajakan atau panggilan itu berupa seruan. Misalnya hendak mengajak teman pergi, ya, panggillah. Memanggil secara verbal.

Begitupun dengan para pendakwah. Tiap ucapannya senantiasa didengarkan. Selama ini kita memang lebih mengenal dakwah yang dekat dengan ceramah dan ulama'. Namun sesungguhnya, bisakah kita mendakwah? Dengan cara apa kita dapat berdakwah? Sudahkah kita berdakwah?

Kita tentu tahu bahwa Rasul adalah uswatun hasanah (teladan). Beliau tak hanya memberikan contoh, tetapi menjadi contoh. 'Ajakan' yang diterima ummat Islam saat itu tak hanya dari ucapan Rasul yang mereka dengar, tetapi juga perilaku Rasul yang mereka lihat dan ketahui.

Dalam menemukan dan memahami makna dakwah, kita tak boleh lupa dan terlepas dari esensi dakwah yang dibawa Rasul. Jika hari ini kita familiar dengan istilah Learning by Doing, sesungguhnya Rasul telah mengaplikasikannya terlebih dahulu.

Selain itu, media untuk berdakwah hari ini adalah sebuah perkembangan peradaban yang patut kita syukuri. Dakwah tak hanya dapat dilakukan di masjid atau acara pengajian. Jalan dakwah itu tak hanya pada ceramah dari desa ke desa. Sesungguhnya kita tak perlu lagi risau karena merasa tak menemukan tempat berdakwah yang tepat. Tempat dan media dakwah adalah hal yang (harusnya) mampu kita buat sendiri.

Berdakwahlah melalui bidang yang kita cintai. Misalnya kamu senang menciptakan lagu. Ciptakanlah lagu yang dapat makin meningkatkan kecintaan pendengar pada ajaranNya. Atau kamu senang menulis fiksi. Berdakwah dengan 'mengikat' nilai yang dapat dikolaborasikan dalam cerita.

Membaranikan diri tuk berdakwah memanglah bukan proses yang singkat dan mudah. Namun kita dapat belajar dengan terus mengasah kepekaan diri. Mengamati dan memahami tiap hal yang kita hadapi. Menemukan makna yang membuat kita tak mudah mengingkari nikmatNya.

Berdakwahlah, bukan hanya dengan terus belajar mengajak, tetapi makin belajar tuk menjadi tauladan. Berdakwah artinya kita harus berani mengubah arus yang biasanya sekadar memberi contoh, berubah dengan menjadi contoh. Kitalah modelnya, dan kitalah yang akan dicontoh.

Tiap orang dapat berdakwah melalui bidang ilmu yang disukai dan ditekuni. Sebab Allah Maha Baik dan tiada batas dalam upaya menjadi makhluk yang siap menebar manfaat. Berma'rifat Cinta padaNya, menghujamkan rasa ke-hamba-an dengan makin mendalam dan mengakar, adalah motivasi tuk terus memperbaiki watak dan perilaku kita. Hal itu pula yang menjadi modal awal dalam berdakwah. Niat berdakwah takkan mampu lepas dari sedalam apa Rasa Cinta kita pupuk dan amalkan.

Sudahkah kita terus berupaya memperbaiki diri tuk menjadi uswah, agar konsisten berdakwah?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

We Have "Luar Binasa" Behind The "Luar Biasa"

K ita mungkin tidak asing dengan istilah ‘luar biasa’. Luar biasa adalah ungkapan ketika kita takjub melihat sesuatu, baik ciptaan Allah, maupun ciptaan manusia. Kata ‘luar biasa’ sering diplesetkan dengan ‘luar binasa’. Nah, mari kita belajar dari ‘luar binasa’. Tanpa kita sadari, istilah ‘luar binasa’ bisa kita jadikan sebagai suatu hal yang dapat membuat kita lebih semangat dalam menjalani segala macam tantangan hidup. Mengapa demikian? Kata binasa sendiri mempunyai arti hilang, mati atau gugur. Mungkin memang tidak ada kedekatan arti antara ‘biasa’ dan ‘binasa’ meskipun mereka mempunyai struktur kata yang mirip jika diucapkan. Orang mengucapkan kata ‘luar biasa’ saat takjub mungkin karena hal yang menakjubkan tersebut memang keluar dari hal yang biasa dilihat. Misalkan ketika melihat seorang perempuan yang cantik, para pria tidak jarang berkata, “cantiknya luar biasa”. Kita tentu masih begitu ingat dengan kehebatan para pelajar SMK yang berhasil membuat sebua...

I'm Back!

Shock berat pas ngecek tanggal tulisan terakhir di blog. 19 Juli 2018. Udah hampir 2 tahun. Gimana saya bisa selama ini ninggalin blog? Salah satunya ya karena..., lupa bayar domain dan nggak tahu cara balikinnya. LOL~ Baiklah, ini konyol tapi ya sudah. Begitulah kenyataannya. 😴 Apa kabar kalian? Semoga baik, ya. Tetep betah di rumah karena sekarang masih bahaya corona. Ya ya, pasti kalian bosen denger nama penyakit itu. But , kita memang harus lawan. Lantas, bagaimana kabar saya? Hmmm, saya baik dan sudah setahun lebih menikah. Hehehe~ Yup, 10 Februari 2019 saya menikah dengan lelaki yang saya cintai, Ahmad Zaini Aziz. Apakah pernikahan selalu menyenangkan seperti yang saya bayangkan? Sejujurnya, saya sih nggak pernah membayangkan bahwa menikah itu akan selalu menyenangkan. Saya sangat paham bahwa menikah itu soal ibadah dan belajar yang akan bikin kita bahagia. Bukan sekadar senang. Bahagia itu, ya, ternyata bukan hanya soal kumpulan hal menyenangkan. Ketika...

Menghina (Guru) mu.

Renungan hari ini. Hari ini kita terlampau sering menemukan orang-orang yang sibuk memaki. Lebih dahsyat, yang dimaki ini guru bagi banyak orang, walau baginya, ya, dia bahkan tak tahu siapa yang sedang dimaki. Seringkali kita mengingatkan diri, bahwa ada banyak pesan dan amalan yang kita dapatkan dari guru. Bahkan guru pula yang menjadi salah satu tauladan bagi kita. Kita contoh. Lantas kemudian kita akan sedih dan sakit bila guru kita dimaki dengan mudahnya. Lebih dalam lagi, saya berpikir. Mereka yang memaki ini bukan berarti tidak tahu betapa pentingnya meneladani seorang guru. Bukan berarti ia tak punya guru. Ia tentu punya guru, hanya tak sama dengan kita. Guru kita bukanlah guru baginya. Barangkali itu yang kemudian membuat ia sangat enteng berkata kasar hingga meremehkan. Maka, di balik rasa sedih dan sakit kala melihat guru kita dimaki dan dihina, semoga kita tak lupa bersyukur. Bersyukur karena guru kita tak pernah memberi dan menjadi contoh bagaimana memaki dan menghina...