Langsung ke konten utama

Maaf, Ternyata Aku Sering Lupa Berterima Kasih

Kebiasaan adalah hal yang selalu membuat kita merasa ringan melakukan sesuatu. Hari demi hari, akan ada hal yang bagi orang berat, tetapi mudah kita lakukan karena kita telah terbiasa.

Suatu ketika, seorang guru mengatakan padaku bahwa kebiasaan itu bukan hanya lahir karena rutinitas, tetapi juga keberanian tuk melakukan hal yang tak selalu mudah. Melakukannya dengan disiplin dan menjadikannya bagian dari kebutuhan hidup.

Namun, entah kita sadar atau tidak. Sebab kebiasaan, kita justru tak jarang mengesampingkan kekuatan diri. Karena merasa telah terbiasa, kita lupa bahwa sejak awal ada hal berat dan sulit ketika memulainya. Kemudian ada seseorang yang hadir mendekap sambil berbisik, "Kenapa kamu bisa sekuat ini, Nak?", dan pertanyaan itu membuat hatimu terketuk. Matamu tiba-tiba membulat sejenak, lantas terpejam dan meneteskan airnya.

Detik itu juga, kamu baru sempat menya pa diri sendiri.
"Hei..., ternyata selama ini kamu kuat sekali, ya. Karena kita terbiasa, aku lantas lupa mengapresiasi dan menjaga kekuatanmu sendiri. Ternyata kita kufur nikmat."

Ya..., tanpa disadari, ternyata tak jarang kita lupa bersyukur karena merasa sudah biasa. Termasuk biasa sehat, biasa bernapa, dan biasa biasa lainnya. Kita lupa pula untuk menjaga dan mengapresiasi diri karena kekuatannya, karena kita terus menempa dan membiasakannya.

Terima kasih, ya, tubuh, jiwa, raga, dan nurani. Kerja keras yang buahkan kebiasaan ini adalah perjalanan yang belum usai. Lanjutkan dengan niat yang terus membaik. Biasakan tapi jangan lupa bersyukur karena masih dimampukan. Dan, jagalah batin yang pasti telah paham soal mengelola niat dan hentakkan tekad.

Maaf, ternyata aku sering lupa berterima kasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

We Have "Luar Binasa" Behind The "Luar Biasa"

K ita mungkin tidak asing dengan istilah ‘luar biasa’. Luar biasa adalah ungkapan ketika kita takjub melihat sesuatu, baik ciptaan Allah, maupun ciptaan manusia. Kata ‘luar biasa’ sering diplesetkan dengan ‘luar binasa’. Nah, mari kita belajar dari ‘luar binasa’. Tanpa kita sadari, istilah ‘luar binasa’ bisa kita jadikan sebagai suatu hal yang dapat membuat kita lebih semangat dalam menjalani segala macam tantangan hidup. Mengapa demikian? Kata binasa sendiri mempunyai arti hilang, mati atau gugur. Mungkin memang tidak ada kedekatan arti antara ‘biasa’ dan ‘binasa’ meskipun mereka mempunyai struktur kata yang mirip jika diucapkan. Orang mengucapkan kata ‘luar biasa’ saat takjub mungkin karena hal yang menakjubkan tersebut memang keluar dari hal yang biasa dilihat. Misalkan ketika melihat seorang perempuan yang cantik, para pria tidak jarang berkata, “cantiknya luar biasa”. Kita tentu masih begitu ingat dengan kehebatan para pelajar SMK yang berhasil membuat sebua...

I'm Back!

Shock berat pas ngecek tanggal tulisan terakhir di blog. 19 Juli 2018. Udah hampir 2 tahun. Gimana saya bisa selama ini ninggalin blog? Salah satunya ya karena..., lupa bayar domain dan nggak tahu cara balikinnya. LOL~ Baiklah, ini konyol tapi ya sudah. Begitulah kenyataannya. 😴 Apa kabar kalian? Semoga baik, ya. Tetep betah di rumah karena sekarang masih bahaya corona. Ya ya, pasti kalian bosen denger nama penyakit itu. But , kita memang harus lawan. Lantas, bagaimana kabar saya? Hmmm, saya baik dan sudah setahun lebih menikah. Hehehe~ Yup, 10 Februari 2019 saya menikah dengan lelaki yang saya cintai, Ahmad Zaini Aziz. Apakah pernikahan selalu menyenangkan seperti yang saya bayangkan? Sejujurnya, saya sih nggak pernah membayangkan bahwa menikah itu akan selalu menyenangkan. Saya sangat paham bahwa menikah itu soal ibadah dan belajar yang akan bikin kita bahagia. Bukan sekadar senang. Bahagia itu, ya, ternyata bukan hanya soal kumpulan hal menyenangkan. Ketika...

Menghina (Guru) mu.

Renungan hari ini. Hari ini kita terlampau sering menemukan orang-orang yang sibuk memaki. Lebih dahsyat, yang dimaki ini guru bagi banyak orang, walau baginya, ya, dia bahkan tak tahu siapa yang sedang dimaki. Seringkali kita mengingatkan diri, bahwa ada banyak pesan dan amalan yang kita dapatkan dari guru. Bahkan guru pula yang menjadi salah satu tauladan bagi kita. Kita contoh. Lantas kemudian kita akan sedih dan sakit bila guru kita dimaki dengan mudahnya. Lebih dalam lagi, saya berpikir. Mereka yang memaki ini bukan berarti tidak tahu betapa pentingnya meneladani seorang guru. Bukan berarti ia tak punya guru. Ia tentu punya guru, hanya tak sama dengan kita. Guru kita bukanlah guru baginya. Barangkali itu yang kemudian membuat ia sangat enteng berkata kasar hingga meremehkan. Maka, di balik rasa sedih dan sakit kala melihat guru kita dimaki dan dihina, semoga kita tak lupa bersyukur. Bersyukur karena guru kita tak pernah memberi dan menjadi contoh bagaimana memaki dan menghina...