Langsung ke konten utama

Tak Perlu, Tapi Masih Saja Ingin Khawatir

Dulu, pernah ada suatu masa... Saya ditanyain orang, dan orang heran dengan keputusan saya untuk melanjutkan kuliah di Jogja. Sambil kerja pula.

"Kenapa enggak di luar negeri aja S2-nya?"
"Yaelah masih aja di sini."
"Sayang banget lho, padahal kayaknya kamu memenuhi kualifikasi untuk kuliah di luar negeri."

Kala itu, jawaban saya selalu sama:
Emang sejak awal nggak pingin kuliah di luar negeri.

Ya nggak pingin aja.

Pernah nyaris mencoba daftar, tapi ya dibelokkan Allah untuk berada di tempat yang sama. Yang pernah merasakan kuliah&bekerja tentu tahu betul bagaimana perjuangannya. Capek dan hari libur dieliminasi tanpa ampun, tapi di sisi lain sungguh bahagia karena masih berkesempatan memenuhi kebutuhan orang lain saat harus memenuhi kebutuhan diri sendiri dalam menyelesaikan kuliah.

Ketika saya hampir lulus S2, seorang teman yang sedang berjuang menunggu pengumuman beasiswa kuliah di luar negeri pernah bilang, "Kamu udah hampir selesai S2, sedangkan aku bahkan belum mulai. Aku kayak nggak ada apa-apanya."
Saya ingat betul waktu itu mukanya melas banget, udah pasrah dan sedih karena merasa nggak punya hal membanggakan setelah selesai S1. Namun akhirnya, dia lolos tes beasiswa dan sekarang kuliah di Belanda.

Pada kesempatan lain, ada pula seorang rekan yang lolos beasiswa untuk kuliah S2 di UGM yang bilang, "Aku pingin bisa lanjutin studi di luar negeri."

Sepenglihatan saya, dia adalah orang yang mau merangkul anak muda di daerah untuk bergerak. Ketika keinginannya disampaikan, saya pun langsung jawab, "Mungkin belum saatnya, atau memang nggak usah aja. Kamu emang disuruh Tuhan di sini, sambil ngurusin ummat." Seketika dia pun terbahak.

Tapi beneran lho. Saya bicara itu dengan serius dan sepenuh hati. Dan, hari ini dia resmi daftar sebagai calon legislatif di daerahnya. Hal yang tak semua orang berani bahkan mau melakukan.

Membuat standar bahwa orang-orang pintar wajib berperan di ranah makro, bagi saya justru menciutkan keberadaan hal-hal di lingkup mikro yang sebetulnya lebih butuh disentuh, dan digerakkan. Kalau dulu saya kuliah S2 di luar negeri, barangkali saya akan merasa bersalah karena tak dapat membantu adik-adik saya di kampus. Kalau teman saya yang sekarang kuliah di Belanda itu menyerah, mungkin hari ini pun dia akan menyesal karena tak berjuang sampai akhir. Kalau teman saya yang nyaleg itu nuruti keinginannya kuliah di luar negeri, ketika pulang nanti ia belum tentu punya kesempatan yang sama tuk bergerak.

Peran dan apresiasi pada pencapaian tak pernah dapat disamakan. Bumi ini diciptakan dengan beragam kondisi justru agar manusia mau memelihara kehambaannya dalam memilih langkah, termasuk diberi kesempatan tuk memperkuat rasa abdi pada masyarakat atau punya kesempatan menjangkau lingkup global agar memelihara keseimbangan peradaban.

Itu baru dua contoh dari sekian banyak fenomena. Tak sedikit rekan yang dipertemukan jalan lain di tengah medan perjuangan yang sejak awal dia pilih. Nggak selesai kuliah, setelah kuliah kerja di bidang yang nggak sesuai, kuliah di perguruan tinggi ternama dan setelah lulus memilih untuk mengabdi di daerah, berprestasi tapi nggak punya keinginan kerja di perusahaan besar, atau bahkan keadaan dilemmatis lainnya.

Cita-cita memang selalu kita rancang. Ya memang begitulah cita-cita, kan? Tapi ruang kebermanfaatan itu selalu hadir dengan banyak wujud. Yang hari ini nampak sepele saja, lima tahun lagi bisa menjadi penentu keberhasilan peradaban. Ruang-ruang keterlibatan yang begitu luas sesungguhnya sayang sekali jika masih dipisahkan dan dikelompokkan dengan indikator keberhasilan. Atau..., jika kita masih keras kepala mengukur kesuksesan, mari kita cek tentang segala kegelisahan yang muncul.

Jika ada yang memberdayakan daerah lalu punya jaringan luas, bukankah kekuatan makro juga akan punya peran besar dalam menggerakkan mikro? Jika ada yang di desa, bukankah akan membantu rekan di ranah global tuk mengetahui kebutuhan masyarakat? Bila pada akhirya semua dapat bergandengan tuk mengisi dan saling terlibat, apa yang sebetulnya masih dikhawatirkan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I'm Back!

Shock berat pas ngecek tanggal tulisan terakhir di blog. 19 Juli 2018. Udah hampir 2 tahun. Gimana saya bisa selama ini ninggalin blog? Salah satunya ya karena..., lupa bayar domain dan nggak tahu cara balikinnya. LOL~ Baiklah, ini konyol tapi ya sudah. Begitulah kenyataannya. 😴 Apa kabar kalian? Semoga baik, ya. Tetep betah di rumah karena sekarang masih bahaya corona. Ya ya, pasti kalian bosen denger nama penyakit itu. But , kita memang harus lawan. Lantas, bagaimana kabar saya? Hmmm, saya baik dan sudah setahun lebih menikah. Hehehe~ Yup, 10 Februari 2019 saya menikah dengan lelaki yang saya cintai, Ahmad Zaini Aziz. Apakah pernikahan selalu menyenangkan seperti yang saya bayangkan? Sejujurnya, saya sih nggak pernah membayangkan bahwa menikah itu akan selalu menyenangkan. Saya sangat paham bahwa menikah itu soal ibadah dan belajar yang akan bikin kita bahagia. Bukan sekadar senang. Bahagia itu, ya, ternyata bukan hanya soal kumpulan hal menyenangkan. Ketika...

Lega

Sebelum menikah bahkan tahu akan menikah dengan siapa, aku selalu berusaha memastikan bahwa setiap langkahku adalah untuk menyiapkan diri berdampingan dengan orang lain. Menjadi istri, menjadi ibu, menjadi bagian dari keluarga orang lain, bahkan menjadi perempuan yang ingin melepaskan pekerjaan untuk fokus kepada keluarga. Apakah semuanya tuntutan dan terpaksa? Tidak. Semua kulakukan karena aku mau. Tidak ada masalah, semua berjalan baik. Makin hari aku merasa makin siap. Setelah menikah dengan lelaki yang kupilih, dan kuyakin bahwa ia punya frekuensi yang sama di tengah banyaknya perbedaan, ternyata tidak semua bisa sesuai dengan persiapan tersebut. Dari banyak hal baru yang kulalui setelah menikah, aku tidak pernah menyangka bahwa yang paling berat tuk dijalani adalah menjadi bagian keluarga dari orang lain. Bukan soal hilangnya profesiku, bulan karena peranku jadi istri yang sepenuhnya di rumah. Ini cukup membuatku sesak, karena sebelumnya aku sangat percaya diri. Dari latar belakan...

We Have "Luar Binasa" Behind The "Luar Biasa"

K ita mungkin tidak asing dengan istilah ‘luar biasa’. Luar biasa adalah ungkapan ketika kita takjub melihat sesuatu, baik ciptaan Allah, maupun ciptaan manusia. Kata ‘luar biasa’ sering diplesetkan dengan ‘luar binasa’. Nah, mari kita belajar dari ‘luar binasa’. Tanpa kita sadari, istilah ‘luar binasa’ bisa kita jadikan sebagai suatu hal yang dapat membuat kita lebih semangat dalam menjalani segala macam tantangan hidup. Mengapa demikian? Kata binasa sendiri mempunyai arti hilang, mati atau gugur. Mungkin memang tidak ada kedekatan arti antara ‘biasa’ dan ‘binasa’ meskipun mereka mempunyai struktur kata yang mirip jika diucapkan. Orang mengucapkan kata ‘luar biasa’ saat takjub mungkin karena hal yang menakjubkan tersebut memang keluar dari hal yang biasa dilihat. Misalkan ketika melihat seorang perempuan yang cantik, para pria tidak jarang berkata, “cantiknya luar biasa”. Kita tentu masih begitu ingat dengan kehebatan para pelajar SMK yang berhasil membuat sebua...